showbiz news / new release | |
 | Category: | Music | | Genre: | Indie Music | | Artist: | INCUBUS |
Penggemar INCUBUS di Indonesia sangat beruntung sekali karena grup ini hanya akan konser di dua Negara di Asia, dimana salah satu yang terpilih adalah Jakarta.band beraliran rock ini akan mengadakan concert yang diselenggarakan pada hari Rabu, tanggal 5 Maret 2008 pukul 8 malam bertempat di Tennis Indoor Senayan Jakarta. Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi kantor JAVA Musikindo, Plaza Mutiara Lantai 2 suite 201, Jl. Lingkar Mega Kuningan Kavling E 1-2, Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan. Telp : (021) 579 88 623 – 5579 88

 | Category: | Music | | Genre: | Alternative Rock | | Artist: | Kula Shaker |
Band Kula Shaker akhirnya menilis album ke-2 bertajuk Strangefolk, setelah 8 tahun kiranya kita menunggu, band yang terkenal degan revolusi musiknya, memadukan ethnic India sehingga terdengar agak-agak mistis, album kedua Kula Shaker musiknya kedengeran lebih minimalis juga dari ornamennya. Biasanya di album yang dulu, suara hammond organ jadi ornamen yang dominan, jadi kental banget nuansa psychedelic-nya. Di album ini ornamen tersebut jarang kedengeran… atau karena mungkin kibordisnya bukan Jay lagi, tapi Harry Broadbent) Dan mungkin itu juga yang bikin beberapa lagunya lebih kental nuansa ‘60-’70an-nya. Dari segi lirik juga agak beda. Di album ini ada beberapa lagu bertema cinta, padahal di album yang dulu2 palingan satu album cuma ada satu lagu cintanya. Tapi yang penting liriknya masih tetep puitis dan mistis. Hehehe… Secara keseluruhan lagu2nya masih “Kula Shaker” banget sih. Paling ngga, kalo dengerin Out on The Highway, Second Sight, Great Dictator (of The Free World), dan Ol’ Jack Tar bisa dapet deh feel-nya.
1.Out On The Highway 2.Second Sight 3.Die For Love 4.Great Dictator (Of The Free World) 5.Strangefolk 6.Song Of Love/Narayana 7.Shadowlands 8.Fool That I Am 9.Hurricane Season 10.Ol' Jack Tar 11.6ft Down Blues 12.Dr Kitt 13.Super CB Operator

 | Category: | Music | | Genre: | Rock | | Artist: | Helloween |
Jangan mengaku anak metal kalau melewatkan yang satu ini! Helloween live in concert!. 22 Februari mendatang, pionne musik power metal asal Jerman ini bakal manggung di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.
Bagi HELLOWEEN, ini adalah penampilan yang kedua kalinya setelah pada 2004 lalu telah menggelar konser di Indonesia. Konser ini merupakan rangkaian Tour album terbaru yagn dirilis Oktober 2007 lalu dengan judul GAMBLING WITH THE DEVIL.
Opening Act: Burger Kill, Straight Out
Nah, jangan sampai terlewatkan! Salam Metal!
Tiket: Tribun Rp 175.000 Festival Rp 200.000 
 | Category: | Music | | Genre: | New Age | | Artist: | Line Up (confirmed) |
Harga Tiket
Presale: Rp 200.000,- (pre sale sampai tanggal 13 Februari 2008)
Regular: Rp. 250.000,-
VIP: Rp. 400.000,- (ada space parkir sendiri, punya row masuk sendiri dan dapat masuk ke tenda VIP)
Line Up (confirmed) Paul van Dyk Belle and Sebastian (DJ Set) VHS or Beta (live) Grant Nelson Silent Disco Jose Padilla (Special Sunset Performance) Sneaker Addict MC Vika Kova Agrikulture Rock N Roll Mafia Remy Irwan Iman Miko Raymond Aldrin Winky Agooes Many more 
 | Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | Kimung |
Saya rasa sebagian besar dari kamu tentunya sudah membeli buku ini, walaupun mungkin sebagian besar belum dibaca. Bagi kamu yang belum punya, buku ini adalah buku wajib yang mencatat sebuah fragmen sejarah perkembangan musik underground di Ujungberung, Bandung. Buku ini bahkan adalah salah satu buku-buku pertama yang berhasil mendokumentasikan sebuah kebudayaan subkultur modern lokal, more to come, I hope. Sosok yang mengikat dan menjiwai dalam buku ini adalah Ivan Firmansyah, atau lebih dikenal dengan Ivan Scumbag, vokalis dari band hardcore-metal yang legedaris di scene underground lokal, Burgerkill. Seperti yang diakui oleh penulisnya, Kimung, seorang teman dekat dan sesama pendiri Burgerkill, membuat biografi ini berarti juga menuliskan sejarah perkembangan musik underground lokal di Ujungberung dan Bandung serta sejarah Burgerkill, dimana Ivan berkarir sampai pada akhir hayatnya. Suasana kemuraman dan emosional dari penulis, para karakter yang terlibat serta Ivan sendiri dapat tercermin dengan jelas sampai akhir buku ini, membuat kita merasakan kedekatan dan ikatan kepada Ivan dan bandnya Burgerkill. Segudang cerita dari sosok tersebut, dari kehidupan pribadinya, kehidupan cintanya, perjuangannya, dan kecintaannya terhadap musik sebagai hidupnya termuat secara mendetail dan lengkap di dalam buku ini. Sangat padat malahan, sehingga seringkali terasa melelahkan, padahal mungkin cerita-cerita tersebut dapat distrukturkan ke dalam bagian-bagian yang lebih singkat. Buku ini juga dengan baik menceritakan kejadian-kejadian sebenarnya di belakang Burgerkill yang tercemar dengan mitos dan gosip underground. Kelebihan lain dalam buku ini adalah kejujuran dimana drugs, sebuah aspek yang lekat dengan Ivan dipaparkan dengan gamblang, an inconvinient truth bagi kamu yang berada di sisi lain, dan mungkin tulisan “Based on true story” tidak perlu ada di cover, karena ini memang biografi sesungguhnya. Harus diakui memang biografi ini bukanlah biografi yang inspiratif ataupun manipulatif, tetapi biografi ini membantu kita untuk lebih mengerti sebuah kondisi yang ada di masyarakat kita, di scene underground, yang sayangnya sering kali diacuhkan oleh publik awam. Mengingat bahwa buku ini sangat erat dengan musik, mungkin akan lebih baik jika memang ada rekaman lagu-lagu yang dideskripsikan di buku ini, lebih kontekstual daripada “songlit” yang ada di rak bacaan dewasa muda di toko buku besar. Saya sangat mengharapkan agar ini dapat terwujud, mungkin dalam bentuk mix-tape atau semacamnya, dan saya yakin hal seperti ini sangat bisa diusahakan. Overall, buku ini menyadarkan betapa dekat dan besarnya pengaruh Ivan di kalangan pelaku scene underground Bandung khususnya, dan semoga buku ini dapat memacu hasil-hasil yang produktif di masa depan.

 | Category: | Music | | Genre: | Indie Music | | Artist: | Pure Saturday |
Time for a Change, Time to Move On adalah satu lagi langkah tak lazim dari Pure Saturday. Ini adalah album lama sekaligus baru oleh grup asal Bandung tersebut; lama, dalam arti 10 dari 12 lagu yang ada di sini diambil dari ketiga album studio mereka; baru, karena ke-10 lagu itu telah direkam dan di-mixing ulang bersama kedua mantan vokalis mereka, Suar Nasution dan Satria Nurbambang. Tak banyak yang berubah dari versi asli, di samping sound yang lebih jernih dan karakter vokal Suar kini lebih matang dan tak sekedar mengikuti gaya nyanyi Robert Smith. Ini adalah kompilasi yang representatif dari sebuah band yang karya-karyanya terus berkembang dan kualitasnya tak pernah menurun. "Kosong" dan "Silence" dari Pure Saturday (1996) menggambarkan gelisah dalam menghadapi ketidakpastian kehidupan; "Di Bangku Taman" dan "Labyrinth" dari Utopia (1999) membawa musik PS ke arah yang lebih terang sekaligus gelap; "Buka" dan "Nyala" dari Elora (2005) membuktikan bahwa mereka masih mantap tanpa Suar; dan "Pagi" dan "Spoken," dua duet antara Suar dan Satria, masing-masing termasuk lagu yang mereka paling pop dan paling rumit. Kedua lagu baru yang merangkum perjalanan PS hingga saat ini tetap menampilkan ciri khas musik mereka: permainan gitar simbiotis dan penuh efek antara Adhitya Ardinugraha dan Arief Hamdani, serta kontras antara pola bas Ade Purnama yang solid dan pukulan drum Yudhistira Ardinugraha yang sulit ditebak. Time for a Change, Time to Move On mungkin lebih cocok bagi pendengar baru, yang penasaran dengan band yang sempat menjadi pionir musik independen ini. Sementara itu, penggemar lama akan lebih sibuk membanding-bandingkan rekaman asli dengan versi baru, serta mempertanyakan absennya lagu-lagu klasik PS seperti "Desire" atau "Coklat." Tapi rasanya semua akan sepakat bahwa ini adalah 12 lagu yang dapat membuat bangga pada musik Indonesia. Sumber (R.Stone Magz/HASIEF ARDIASYAH 
 | Category: | Music | | Genre: | International | | Artist: | Radio Head |
Sejak merilis mahakarya ok computer di tahun 1997, kedatangan setiap album baru Radiohead diperlakukan seperti sebuah peristiwa agung. Pecinta musik di seluruh dunia selalu penasaran, terobosan apalagi yang akan dibuat oleh kuintet asal Oxford, Inggris tersebut? Sesuai tebakan, pertanyaan yang sama juga diajukan menjelang dirilisnya In Rainbows, album studio ketujuh Radiohead sekaligus yang pertama setelah mereka meninggalkan major label EMI Music. Tapi lain halnya dengan album-album sebelumnya, kali ini bukan hanya musik yang terdapat di album baru tersebut yang menjadi sorotan. In Rainbows akan selalu dikenal karena metode distribusinya yang re-volusioner, yaitu membiarkan pembeli menentukan harga untuk mengunduhnya lewat Internet pada Oktober-Desember lalu, sebelum akhirnya diedarkan dalam format CD konvensional. Sementara itu, musiknya sendiri mengagetkan. Bukan karena melebihi Kid A dalam hal eksplorasi yang edan-edanan, tapi justru sebaliknya: In Rainbows adalah album Radiohead yang paling mudah dicerna sejak OK Computer, atau bahkan The Bends. Entah apa alasannya, tapi yang pasti album ini berisi materi akan cocok untuk konser, yang tampaknya akan menjadi sumber penghasilan utama Radiohead di masa depan. Dibanding album-album sebelumnya, In Rainbows terasa lebih minimalis dan halus, di mana raungan eksplosif gitar Jonny Greenwood yang biasanya menjadi salah satu ciri khas hanya terdengar jelas pada "Bodysnatchers." Itu menyebabkan ciri khas Radiohead lainnya, yaitu vokal Thom Yorke, dibiarkan menonjol tanpa ditimbun oleh suara-suara elektronik. Ini bukan hal yang buruk, karena Yorke masih mampu membuktikan diri sebagai salah satu vokalis rock terbaik saat ini. Dia berhasil membuat pendengar merinding saat menyanyikan lirik-lirik yang bersifat lebih personal daripada biasanya, seperti pada "All I Need," sebuah lagu midtempo yang dibumbui suara xylophone dan synth bass. Bagi penggemar lama yang dikecewakan oleh kegelapan eksperimental pada Kid A dan Amnesiac, kemungkinan besar keindahan pada "Nude" dan "Jigsaw Falling Into Place" akan lebih berkenan di hati. Agak ironis bahwa Radiohead merilis album mereka yang paling ringan justru setelah lepas dari major label, tapi In Rainbows membuktikan bahwa Radiohead tak ingin melakukan hal yang sama - baik dari segi musiknya maupun huru-hara seputar distribusinya. (sumber : RStone.Magz /Hasief Ardiasyah)

 | Category: | Music | | Genre: | Other | | Artist: | Switchfoot |
Jika Anda penggemarnya Switchfoot tentunya kenal tembang "Dare You to Move". Nah kali ini band asal San Diego, Amerika ini mengajak fansnya untuk langsung menyaksikan langsung aksinya di Jakarta.
Switchfoot yang digawangi Jon Foreman, Tim Foreman, Chad Butler, Jerome Fontamillas dan Drew Shirley ini akan menggelar konser di Tennis Indoor Stadion, Senayan. So, jangan sampai ketinggalan. Segera beli tiketnya di sini!
Tiket: Festival Rp 350.000 Tribune Rp 300.000

 | Category: | Music | | Genre: | Rock | | Artist: | my chemical romance |
My Chemical Romance gelar konser di Jakarta! Nah, saksikan langsung aksi langsung Gerard Way (vocal), Ray Toro (gitar), Frank Iero (gitar), Mikey Way (bass) dan Bob Bryar (drums) pada 31 Januari 2008 di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta. 20.00 WIB Tiket: Festival Rp 500.000 Tribune Rp 600.000

 | Category: | Music | | Genre: | Indie Music | | Artist: | bjork |
BJORK akan menggelar konser di Jakarta pada Selasa, 12 Februari 2008, 20.00 WIB mendatang di Tennis Indoor Senayan Jakarta. Artis wanita asal Iceland ini memulai solo karirnya saat berusia 11 tahun. BJORK yang mengusung aliran musik unik telah melansir single yang berjudul "Venus as a Boy", "Big Time Sensuality", dan "Play Dead" yang berkolaborasi dengan David Arnold dalam soundtrack film Young American. Saat ini BJORK telah menghasilkan beberapa album seperti Debut, Post, Homogenic, Selmasongs, Vespertine, Greatest Hit, Medulla, Drawing Restraint 9 dan Volta. Album pertamanya yang berjudul "Debut" berhasil mendapatkan BRIT Awards kategori International Female Solo Artist dan juga kategori New Comer. Albumnya yang berjudul Volta, yang dirilis tahun 2007 ini menjadi salah satu nominasi Grammy Awards untuk kategori Best Album Tiket: Festival: Rp.600.000 Tribune : Rp 500.000

 | Category: | Computers & Electronics | | Product Type: | Other | | Manufacturer: | casio |
D-80 mempunyai 7 drum mengisi dan 2 injakan kaki, seperti halnya suatu bunyi;serasi yang luas , corak dan pilihan untuk memutar LD-80 [itu] ke dalam suatu [yang] riil satuan drum. Ambil tongkat tambur mu dan permainan! muda Beatniks akan mencintai LD-80 [itu].
Betapapun, drum yang digital menunjukkan semua corak [adalah] suatu mesin irama fully-fledged memerlukan: 7 touch-response drum mengisi, 2 injakan kaki ( hi-hat dan drum bass), 100 irama dengan auto-accompaniment, 4-level katakerja kembali digital, bass hebat berfungsi, 76 bunyi;serasi dan 20 drum menetapkan. Karena semua pemula drum ada suatu visuil belajar sistem: Via DPC [DIODE PEMANCAR CAHAYA] [itu] menandai (adanya), bantalan yang (mana) (diharapkan) untuk dimainkan. Para profesional Perkusi disenangkan oleh [itu] merekam fungsi dan MIDI koneksi.
Puncak menonjolkan singkatnya: 7 drum mengisi dengan menerangi fungsi ( touch-response), 76 drum bunyi, 100 irama, merekam fungsi, drum termasuk mecucuk/lekat/julurkan Meliputi 7 bantalan dengan sentuhan menanggapi, 20 drum menetapkan, 75 nada, dan 100 irama dengan teman auto. Suatu Sistem Pemandu [Cahaya/ ringan] mengajar kamu bagaimana cara permainan. Liputi suatu built-in metronom, 3 katakerja kembali digital, MIDI koneksi, dan mempunyai built-in para pembicara stereo. Liputi 2 injakan kaki untuk drum bass dan hi-hat operasi.

| |